DIARY PERJALANAN KULIAH KERJA LAPANGAN

 

Hari Senin tanggal 16 Januari 2023 merupakan hari keberangkatan KKL atau kuliah kerja lapangan jurusanku. Pagi hari ini diawali dengan kesibukan dalam mengemasi serta menyiapkan keperluan untuk barang bawaan yang diperlukan selama KKL berlangsung. Aku berangkat KKL dari kos yang terletak didekat fakultas. Titik kumpul yang diberitahukan berada di depan gedung rektorat UNY. Hari itu aku berangkat menggunakan pakaian santai serta sweater agar nyaman ketika perjalanan. Ketika berangkat KKL aku baru sadar bahwa aku belum sarapan dan kelaparan. Untung saja saat keberangkatan diberi makanan olive chicken. Aku juga sempat searching mengenai gelaja mabuk yang ternyata dapat terjadi bila kita tidak lapar karena lapar dapat menyebabkan asam lambung naik dan mengakibatkan mabuk. Tetapi makan yang berlebihan juga ternyata mampu membuat seseorang menjadi mabuk. Maka dari itu aku memutuskan untuk makan sedikit saja. 

Aku mendapatkan kursi bagian tengah di bis dua bersama teman-teman. Selama di perjalanan bis kami sangatlah aktif karena banyak teman-teman yang menyumbangkan suara untuk meramaikan karaoke di bis. Lagu yang diputar cukup beragam mulai dari lagu koplo, lagu pop Indonesia, lagu barat, lagu korea  bahkan lagu jepang. Hari pertama pejalanan kita berhenti di rest area tol untuk buang air, kemudian dilanjutkan ke restoran untuk makan malam dan salat. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke terminal Ciboleger hingga sampai pada waktu subuh. Saat itu, kami dibangunkan untuk salat subuh, bersih badan atau mandi, dan juga makan siang. Mandi pagi itu begitu ramai hingga antre panjang. Setelah mandi, salat, dan sarapan, kami mempersiapkan diri untuk memulai perjalanan ke Cijahe menggunakan shuttle atau bis kecil. Selama diperjalanan, banyak sekali pemandangan indah berupa gunung, hamparan ladang, serta para warga yang sibuk melakukan aktivitas seperti menebang serta menggotong kayu bersama-sama.



Selama perjalanan menggunakan shuttle sangatlah membuat keadaan menjadi ramai karena medan atau jalnnya yang begitu menantang. Setelah sampai di Cijahe, kami bertemu dengan anak-anak dari Baduy Dalam yang akan ikut dalam tracking bersama kami. Mereka ternyata menjadi seorang porter atau pembawa barang. Pada saat itu banyak porter anak-anak karena orang dewasa atau bapak-bapaknya sedang mengikuti upacara adat di Baduy Dalam. Di sepanjang perjalanan tak sedikit dari kami yang mengeluh karena jalannya yang begitu naik dan menurun tajak, beberapa teman bahkan juga ada yang terpeleset. Hingga pada siang hari sekitar jam setengah satu kami sampai di Baduy Dalam. Kami langsung menuju rumah warga yang akan ditempati oleh masing-masing kelompok. Oh iya, aku merupakan kelompok 5, letak rumahnya pun berada di bagian agak belakang dari pintu masuk. Rumah di Baduy dalam ini sangatlah unik karena berbentuk rumah panggung, dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu, dan dasar atau alasnya menggunakan bambu, dilapisi dengan tikar dari anyaman bambu untuk tidur. Di dalam rumah tersebut kami di sambut oleh Ibu pemilik rumah atau yang biasa dipanggil ambu, dan juga anak perempuannya yang masih kecil dan manis bernama Narwa. Dalam berkomunikasi, ambu dan Narwa agak kurang memahami yang kami katakan karena mereka tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia. Setelahnya bapak pemilik rumah atau yang biasa dipanggil dengan Ayah datang, dan membuatkan kami makanan untuk makan sore. Menu makan sore itu adalah tempe dengan sambal tomat, tidak lupa dengan nasi putih.

Setelah makan, kami menawarkan kepada ambu dan ayah untuk mencuci piring di sungai. Hal yang sangat unik kami ketahui ternyata bahwa penduduk Baduy dalam mencuci piring dan peralatan masak menggunakan abu sebagi pengganti sabunnya, serta menggunakan daun bambu (yang pohonnya ada disekitar sungai) sebagai pengganti spons. Kami juga membuang air kecil di sungai, tempat antara laki-laki dan perempuan pun juga di pisah, juga terdapat tempat yang dibuat untuk memberishkan badan, kurang lebih gambarannya seperti berikut:


Setelah membersihkan diri dan mencuci piring, kami mengikuti wawancara bersama kepala adat yang terletak dipelataran dekat dengan rumah yang kami tinggali. Beberapa orang penting turut hadir dalam wawancara sore itu, tetapi ayah Ardi yang cukup aktif menjawab pertanyaan, tidak lupa juga diterjemahkan juga oleh kakak porter yang ikut mendampingi kami ketika tracking. Setelah wawancara, kami membersihkan diri lagi sebelum gelap karena di Baduy dalam tidak ada lampu sehingga tentu akan mempersulit diri ketika akan buang air di malam hari. 

Di malam hari kami ikut membantu ayah mempersiapkan makan malam di dapur rumah (yang ternyata terdapat sekat untuk memisahkan bagian rumah). Ayah menggoreng ikan dan tempe, serta membuat sambal tomat lagi. Yang baru ku ketahui bahwa ternyata telah banyak beberapa produk instan yang masuk ke Baduy Dalam ini, seperti bumbu racik, mi instan, bahkan air aqua juga diperjualbelikan di Baduy Dalam ini. Setelah bertanya dengan ayah, ternyata diketahui bahwa produk ini diperoleh dengan warga Baduy Dalam yang berbelanja dengan berjalan kaki membeli barang-barang tersebut di luar Baduy Dalam. Namun ada juga warga Baduy Luar yang berdagang di Baduy Dalam. Hal ini diketahui karena beberapa pedagang yang berjualan menggunakan pakaian bebas dan juga menggunakan alat komunikasi telfon. 

Setelah makan malam, kami memutuskan untuk tidur karena pasti kami akan mempersiapkan bangun pagi. Pagi hari datang, kami cuci muka, dan wudhu di dekat sungai. Setelah itu kami sarapan, berpamitan dengan ambu, ayah, dan Narwa karena kami akan bersiap untuk melakukan tracking pulang. Selama tracking pulang, kami sangat menikmati perjalanan yang dirasa lebih ringan karena berbeda jalur dengan jalur ketika beragkat. Aku juga tidak lupa berfoto di jembatan yang merupakan perbatasan antara Baduy Dalam dengan Baduy Luar.


Aku ingat sekali di jembatan itu, sandal yang Erwin bawa, jatuh ke sungai di mana di saat itu kami tertawa bersama-sama. Hal yang dilakukan Erwin ternyata malah membuang sandalnya yang menjadi pasangan sandal satunya ke sungai tersebut. Tidak hanya itu, aku bersama dengan teman-teman juga sempat foto bersama untuk kenang-kenangan.


Di perjalanan aku juga menemui sungai kecil dan aku mampir sebentar untuk mencuci kaki, ternyata airnya sangat sangat jernih dan segar.



Tampak juga rumah dari warga Baduy Luar dari dataran tinggi, terlihat sangat unik sekali.


Setelah menempuh [erjalanan hingga telah sampai di Cijahe, kami bersih-bersih dan melanjutkan naik shuttle ke Cibolenger. Ternyata tedapat shuttle yang bannya bocor, tidak tahu mengapa shuttleku yang balik menghampiri shuttle yang bocor. Ternyata karena membawa ban cadangan sehingga supir shuttleku membantu mengganti bannya. Karena perjalanan yang bolak-balik, membuatkku agak sedikit mual tetapi alhamdulillah perjalanan sangat lancar setelah itu. Namun perasaanku campur aduk karena mendengar kabar mengenai nilai matkul MPK yang sudah keluar. Ternyata nilaiky tidak sesuai harapan, hingga sampai menunggu bis di mushola dekat Indomaret tempat pemberhentian shuttle pun aku masih saja tidak mood.

Perjalanan kami lanjutkan menuju Bandung dengan melewati Jakarta yang cukup ramai dan macet, kami juga sempat makan nasi padang dan menlajutkan perjalanan sampai ke hotel. Setelah sampai hotel kami menuju kamar masing-masing, kalau kamarku terletak di lantai 2 sehingga kami menaiki tangga agar sedikit lebih cepat karena lewat lift sangatlah antre panjang. Setelah itu kami makan malam dilanjutkan dengan briefing sebentar membicarakan kelompok baru untuk tugas KKL ini. Setelah itu kami diberi waktu senggang untuk istirahat atau juga berkeliling di sekitar hotel. Malam itu aku gunakan untuk membereskan tugas MPK ku yang ternyata tidak dapat tertolong. Dari malam hingga pagi aku merasa sedih bahkan ketika sarapan aku masih merasa sedih. 

Namun apalah jadi, aku harus tetap melanjutkan perjalanan KKL selanjutnya yaitu wawancara dengan  Bakesbangpol Jawa Barat di Hotel Fabo. Jujur pada wawancara aku sangat ngantuk karena hanya membahas soal pasal-pasal, selain itu juga pengaruh aku yang minum antimo karena takut mabuk padahal ternyata jarak dari hotel tempat menginap ke hotel tempat wawancara hanya sepuluh menit saja. Setelah wawancara dengan Kesbangpol, dilanjut dengan wawancara dengan perwakilan dari Saritem. Sebelum itu aku sempat jajan di depan hotel karena ada jajanan sma. Aku jajan chicken crispy, cireng isi, dan cilor. Setelah jajan juga kami makan siang di hotel, makanan di hotel ini sangatlah enak selain makanan nasi padang di rest area. 
Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Toleransi yang mana di dalamnya sangatlah banyak tempat ibadah dari berbagai agama, aku dan teman-teman sempat berfoto di salah satu Vihara yang lumayan besar dan indah ini ternyata bisa dimasukin sama pengunjug lohh


Setelah berkeliling dan salat di Gang Luna Kampung Toleransi ini, kami melanjutkan perjalanan ke FarmHouse, dalam perjalanan yang cukup mepet dengan rundown acara, kami dikawal oleh mobil polisi agar bisa tiba di tempat sebelum objek tersebut tutup.

Tiba di FarmHouse kami berkeliling bermain dengan beberapa binatang, tak lupa juga menukarkan tiket dengan susu gratis yang disediakan. Hanya berkeliling sekitar satu jam, aku dan temanku memutuskan untuk kembali ke bis. Kami sempat berfoto secara bersama-sama dan hingga akhirnya berpisah dengan beberapa teman yang akan pulang secara langsung dari FarmHouse. 

Di perjalanan pulang kami sempat makan di kawasan sebelum masuk tol. Di sinilah air terasa dingin sampai aku merasa kedinginan, dan berujung flu. Setelahnya kami menuju toko oleh-oleh, aku sangat bingung ingin membeli apa karena orang tua ku sempat berpesan untuk tidak membeli oleh-oleh. Tetapi ketika di dalam bis ada penjual yang menjajakan buah strawberry sehingga aku membelinya. 

Perjalanan pulang pun dimulai, kami semua tidur sampai akhirnya tiba di Jogjakarta tepatnya di kawasan sekitar Amplaz sekitar pukul setengah empat. Kami mulai berberes barang dan turun di rektorat. Sebenarnya aku bingung harus kemana karena kunci kosku tertinggal di dalam kamar, dan aku tidak bisa masuk kos karena kosku tutupnya jam 10 malam sedangkan saat itu sudah jam 4 pagi. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut naik ojek mobil online menuju kos temanku dan menunggu kosku dibuka sampai sekitar jam 6. Setelah jam 6 aku memutuskan berjalan pulang ke kos dan membeli nasi pecel sebagai sarapan. Sampai di kos aku menaruh barang-barang, membersihkan badan dan bersiap untuk tidur. Tetapi yang kurasakan justru flu dan kepalaku yang pusing seperti goyang-goyang. Rasa pusing ini ku rasakan hingga beberapa hari sehingga belum bisa mengerjakan tugas KKL kelompok maupun individu.

Dalam perjalanan KKL kali ini banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan, baik dari mulai menyiapkan barang atau packing hingga perjalanan pulang. Aku berharap dengan telah menempuhnya kegiatan KKL ini dapat menjadi pengalaman dan pelajaran yang berharga, dan mampu memberikan dampak serta manfaat kepada kita semua.



Komentar