PENTINGNYA MODAL SOSIAL DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI KECAMATAN SEMANU KABUPATEN GUNUNGKIDUL PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA


(Source: Merdeka.com)

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Banjir memiliki makna berair banyak dan deras, kadang-kadang meluap; air yang banyak dan mengalir; peristiwa terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air meningkat. Banjir merupakan suatu fenomena alam yang cukup sering terjadi di negara Indonesia apalagi di kota-kota besar seperti ibu kota DKI Jakarta. Namun, pada blog kali ini yang akan saya bahas ialah banjir yang terjadi di daerah tempat kelahiran saya yaitu di Kabupaten Gunungkidul.


(Source: Merdeka.com)

Gunungkidul adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya yang berada pada bagian paling timur di DIY membuatnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Bantul. Letaknya yang berada di dataran tinggi membuat kabupaten ini sering disebut sebagai Jogja lantai dua dengan pusat pemerintahannya yang berada di Kecamatan Wonosari.

 

Seperti yang diketahui, Gunungkidul terletak di dataran yang lebih tinggi dibanding kabupaten-kabupaten lainnya yang ada di Yogyakarta. Namun, pada beberapa tahun yang lalu telah terjadi bencana alam yang cukup menghebohkan masyarakat. Bencana alam tersebut adalah terendamanya beberapa kecamatan di Gunungkidul, seperti Kecamatan Tepus, Kecamatan Tanjungsari, Kecamatan Playen, Kecamatan Purwosari, Kecamatan Panggang, Kecamatan Wonosari, Kecamatan Gedangsari, Kecamatan Paliyan, dan Kecamatan Semanu.

 

(Source: Istimewa)

 

Banjir ini terjadi tepatnya pada 17 Maret 2019 di salah satu daerah yaitu Kecamatan Semanu. Beberapa titik banjir atau genangan air di Kecamatan ini menyebabkan banyak rumah warga terendam, diantaranya di Padukuhan Jasem Lor (Utara), Jasem Kidul (Selatan), Kwangen Lor (Utara), Kuwon Lor (Utara), Dengok Kidul (Selatan), dan Dengok Lor (Utara). Tidak hanya membuat rumah warga terendam, tetapi juga bangunan umum seperti pasar, mushola, hingga sekolah.

Banjir yang merendam sejumlah titik di beberapa kecamatan yang ada di Gunungkidul ini dapat diketahui penyebabnya dikarenakan hujan deras yang berlangsung selama kurang lebih dua hari. Akibat dari hujan deras disertai dengan angin kencang inilah yang kemudian menyebabkan dampak yang cukup merugikan bagi banyak warga. Diantaranya seperti terendam, rusak dan hanyutnya harta benda, adanya intruksi darurat untuk meliburkan beberapa sekolah, tertutupnya akses jalan penguhubung antarkecamatan, serta menyebabkan gangguan layanan air bersih ke warga.

Setelah berhentinya hujan deras yang berdurasi cukup lama, sekitar pada tanggal 19 Maret 2019 mulailah para warga mencari harta benda yang masih tersisa. Bantuan juga mulai diturunkan oleh pemerintah melalui berbagai instansi. Perlu dipahami bahwa modal sosial yang ada di masyarakat seperti trust atau kepercayaan dan jejaring sosial sangatlah memiliki peran yang cukup besar dalam bencana banjir ini.

 

(Source: Republika)

 

Modal sosial yang pertama ialah trust atau rasa percaya. Rasa kepercayaan menjadi tonggak utama dalam membina suatu hubungan di lingkungan masyarakat. Hubungan yang didasari oleh suatu perasaan yakin bahwa yang lain akan melakukan sesuatu yang diharapkan dan akan senatiasa bertindak dalam suatu pola tindakan yang saling mendukung.

Dalam bencana yang terjadi ini, rasa percaya sebagai modal sosial juga berhubungan dengan modal sosial lainnya yaitu nilai dan norma. Seperti yang telah kita ketahui, nenek moyang kita telah mengajarkan semangat atas nilai gotong-royong dalam membantu sesama sebagai bentuk untuk menjunjung tinggi kebersamaan dan persatuan. Kedua hal tersebut dapat dilihat dari aksi saling bahu-membahu untuk menolong sesama warga, baik yang terdampak maupun tidak. Meraka percaya dengan adanya bencana banjir, pasti akan selalu muncul pertolongan karena mereka saling memiliki rasa percaya serta rasa persatuan untuk bekerja sama.

 

 

(Source: Sorot Nusantara News)

 

Selain kedua modal sosial tersebut juga terdapat modal sosial berupa jaringan di masyarakat. Jaringan ini menjadi sebuah media atas terciptanya proses interaksi dan komunikasi antarmanusia agar mampu memperkuat kerja sama serta menjaga kepercayaan. Perlu adanya komunikasi dan kerja sama yang baik antarindividu dalam kelompok maupun pemerintah sehingga semakin mampu mendorong terselesaikannya dampak bencana ini. Dalam realitanya pun pemerintah setempat beserta dinas kabupaten telah turut serta membantu masyarakat yang terdampak dengan memberikan sembako. Bahkan dulu juga terdapat sukarelawan di sekolah SMP saya yang mengumpulkan dana, sembako, bahkan baju serta seragam yang masih layak pakai untuk disalurkan kepada masyarakat yang terkena musibah ini.

 

 

 

 

Referensi:

            Kandar. (2019, Maret). Beberapa Titik Di Semanu Rendam Rumah Warga. KabarHandayani. Diakses pada 25 Oktober 2022 dari https://kabarhandayani.com/beberapa-titik-banjir-di-semanu-rendam-rumah-warga/

 

 

Penulis: Danita Rahmawati

Pendidikan Sosiologi, FIS, UNY

Dilogi 21

 

Komentar